Peta Hujan Jawa Barat

Peta wilayah iklim Indonesia pertama kali disusun oleh Dr. J. Boerema (1926) yang disebut dengan peta daerah tipe hujan.  Publikasi ini diberi judul  TYPEN VAN DEN REGENVAL IN NEDERLANDSCH-INDIE (Rainfall types in the Netherlands Indies) dalam Verhandelingen No.18.  Dalam publikasi peta tersebut, Indonesia dibagi menjadi 153 daerah tipe hujan menurut pola curah hujan bulanannya, terdiri dari 69 daerah di Jawa-Madura dan 84 daerah di luar Jawa-Madura.

Pada tahun 1985, BMKG membuat peta daerah tipe hujan dengan menggunakan data periode 1951-1980. Publikasinya untuk wilayah Jawa dibagi dalam tiga buku, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta, serta Jawa Timur. Sedangkan untuk luar jawa dibagi berdasarkan kepulauan, yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, serta Maluku dan Papua.

Selanjutnya pada tahun 1994, BMKG membuat pemutakhiran daerah tipe hujan di Indonesia dengan menggunakan data periode tahun 1961-1990. Dalam publikasi ini, Indonesia dibagi menjadi 235 daerah tipe hujan menurut pola curah hujan bulanannya, terdiri dari 94 daerah di Jawa-Madura dan 141 daerah di luar Jawa-Madura.  Pada tahun 2007, BMKG mempublikasikan Atlas Curah Hujan di Indonesia Rata-Rata 1971-2000.

Tipe Hujan di Indonesia

Berdasarkan hasil penelitian Dr. J. Boerema (1926), secara umum wilayah Indonesia memiliki 3 tipe hujan, yaitu :

 

a.  Tipe Ekuatorial

Umumnya memiliki pola hujan rata-rata bulanan dengan dua puncak hujan maksimum yaitu pada Maret dan November. Rata-rata hujan setiap bulan cukup tinggi, yaitu lebih dari 150 milimeter dan sebaran wilayahnya umumnya berada di sekitar ekuator. Puncak hujan biasanya terjadi pada saat posisi matahari berada di atas wilayah tersebut yang merupakan wilayah Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ).

b.  Tipe Monsun

Umumnya memiliki pola hujan rata-rata bulanan dengan satu puncak hujan maksimum yaitu pada Januari atau Desember dan minimum pada bulan Agustus. Rata-rata hujan setiap bulan menunjukkan perbedaan yang jelas antara periode musim kemarau dengan curah hujan kurang dari 150 milimeter dan periode musim hujan dengan curah hujan lebih dari 150 milimeter. Sebaran wilayahnya umumnya berada di selatan ekuator yang sensitif terhadap gerakan atau perubahan sistem angin monsun. Puncak hujan biasanya terjadi pada saat sistem monsun barat dominan melintasi wilayah tersebut.

c.  Tipe Lokal

Umumnya memiliki pola hujan rata-rata bulanan yang kebalikan dengan tipe monsun. Pada saat wilayah tipe monsun mengalami musim hujan, maka wilayah tipe lokal ini mengalami musim kemarau, demikian juga sebaliknya. Selain itu, akibat dari kondisi geografisnya terdapat pula wilayah tipe lokal yang memiliki curah hujan cukup rendah sepanjang tahun dengan rata-rata bulanan kurang dari 150 milimeter.

Pos hujan yang datanya digunakan dalam análisis pemetaan adalah yang memiliki data minimal 10 tahun, dan lokasinya menyebar. Dengan demikian, tidak seluruh pos hujan hasil pengolahan digunakan dalam pembuatan peta rata-rata curah hujan. Namun demikian, data rata-rata curah hujan bulanan hasil pengolahan dari seluruh pos hujan disajikan pada lampiran atlas ini.

Analisis pemetaan rata-rata curah hujan bulanan maupun tahunan untuk setiap wilayah dilakukan dengan software GIS (Geography Information System) Arc_View model Krigging dengan mempertimbangkan kondisi topografi wilayah.

 

Peta Rata2 Hujan Indonesia 1981-2010

Gambar 1. Peta Rata-Rata Curah Hujan Tahunan di Indonesia

 

Peta Rata2 Hujan Jabar DKI Banten 1981-2010

Gambar 2. Peta Rata-Rata Curah Hujan Tahunan di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

 

Peta Normal Curah Hujan Jawa Barat tahun 1981 – 2010

 

JanuariPebruari
MaretApril
MeiJuni
JuliAgustus
SeptemberOktober
NopemberDesember

admin@dmg